26 Maret 2012

Curhat Pemimpin VS Curhat Rakyat

Hanya disini, Pemimpin curhat masuk tivi, Rakyat curhat, jangankan masuk kanan keluar kiri, sudah tidak didengar lagi?!?!

Selayaknya, kegiatan mencurahkan isi hati, atau bahasa gaulnya curhat, memang dilakukan saat suasana hati sedang gelisah. Saat keadaan susah, seperti yang dilakukan pemimpin saya beberapa hari yang lalu. Memang seorang pemimpin bisa susah, menghadapi kesulitan. tapi alangkah baiknya jika dia lebih banyak mendengar keluh kesah rakyatnya. Bukan malah sebaliknya, rakyatnya yang diminta mendengar keluh kesah sang pemimpin. Jangan heran saat sang pemimpin masuk tivi, tidak ada yang nonton. Selain karena bosan mendengar, juga karena sebagian besar tidak punya tivi : ) .
Rakyat mengeluh segala macam barang kebutuhan mahal, malah akan mengambil kebijakan yang lebih menyengsarakan rakyat. Rakyat demo, mencoba berorasi di gedung rakyat, malah dipukuli. itu kan gedung milik mereka, kenapa tidak boleh masuk? Rakyat mengeluh di media (online maupun cetak), ditangkap polisi. dianggap mencemarkan nama baik.
Jadi tidak heran rakyat lebih suka curhat sama sapi. Selain karena sapi adalah pendengar yang baik, secara keseluruhan sapi memang jauh lebih berguna daripada sang pemimpin. Tidak perlu menghitung susu dan dagingnya, kotorannya pun masih sangat jauh lebih berguna.  

21 Maret 2012

Bir Paling Nikmat

Berkunjung ke Singaraja, apalagi ke daerahnya yang masih bernuansa desa, sangat menyenangkan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. dari memancing, sampai berkunjung ke wisata alam air yang cukup banyak ada disana. Satu hal lagi yang tidak bisa dilewatkan adalah mencoba Es Bir Singaraja. Bir berwarna putih dan mengandung serat yang kenyal ini sangat enak, terutama jika diminum saat cuaca panas. Bir ini tidak memabukkan (kecuali diminum secara berlebihan, seperti 14 gelas sekaligus), malah menyehatkan. Jika suatu saat anda berkunjung ke Singaraja, cobalah menu minuman yang disebut Es Bir ini.

15 Maret 2012

Yang Gampang Cari Sakti, Yang Susah Cari Mati

Sebuah ungkapan yang agak keras namun ada benarnya. Untuk mencari, bisa dipelajari. entah melalui buku, diajarkan seseorang, atau dari anugerah yang diatas. Banyak orang bisa dijadikan contoh untuk yang satu ini. Yang jauh lebih susah adalah mencari mati. Contoh yang paling sederhana yang bisa saya berikan adalah sabung ayam. Ada seekor ayam yang perkasa. Sudah menang berkali-kali dalam aduan. Dia akan melawan seekor ayam muda, tubuh yang biasa saja, dan baru pertama kali turun dalam arena sabung ayam. Selama pertandingan sang ayam baru terus terdesak dan seperti tinggal menunggu mati. Tapi satu tebasan dari si ayam baru ke leher sang ayam perkasa, menyudahi, bukan hanya perlawanan sang ayam, namun juga nyawanya.
Inti dari hal diatas adalah, anda bisa mencari, hebat, entah karena pengalaman anda maupun karena hasil belajar anda. Tapi untuk mencari mati tidak semudah itu. Sang ayam baru diatas seharusnya sudah mati. Tapi dia tidak mati karena memang dia belum seharusnya mati. Sama seperti orang yang terjun dari lantai 52 suatu gedung. dia belum tentu mati kalau memang belum waktunya. Tapi orang yang jatuh ke selokan, bisa mati karena memang dia sudah seharusnya mati.
Jadi, memang lebih gampang mencari sakti daripada mencari mati. Sebagian karena orang yang terlalu sakti sulit mencari lawan yang bisa membunuhnya. Sebagian karena memang belum waktunya.

(Dipersembahkan kepada seorang teman saya yang sangat terobsesi menjadi sakti, Chima)

09 Maret 2012

Jangan Hidup Di Bali

Habis gajian, bermaksud untuk refresing di toko buku. Alih-alih menemukan buku menarik dan menyenangkan, yang pertama saya angkat dari pajangannya dan saya baca malah buku yang isinya kurang lebih menyarankan agar jangan mati di Bali. Karena menurut pandangan penulisnya, mati di Bali akan menyusahkan keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan, baik dari sisi upacara yang harus dilakukan maupun, terutama, dari sisi biaya upacara itu sendiri. sungguh buku yang aneh, mengingat yang menulis adalah orang Bali.
Menurut saya, bagi orang Bali yang biasa melakukan upacara, khususnya Yadnya, tidak akan terlalu menyusahkan melakukan upacara untuk orang meninggal (dalam hal ini Ngaben). Upacara Yadnya sudah biasa dilakukan orang Bali sejak dari baru lahir sampai mati. Dari bayi baru lahir sudah dilaksanakan upacara Jatakarma Samskara. Yang akan berlanjut dengan upacara Tutug kambuhan, Mesambutan, Otonan sampai dengan nantinya dia mati yang diakhiri dengan upacara Pitra Yadnya. Dan semua orang Bali dengan senang hati melakukan semua upacara tersebut. Dalam kaitannya dengan upacara kematian, masyarakat akan dengan senang hati membantu keluarga yang ditinggalkan dalam melaksanakan upacara tersebut, apalagi orang yang meninggal semasa hidup juga senang membantu orang. Kalau anda tidak suka bermasyarakat dan saling membantu, baru mungkin anda tidak akan di pedulikan oleh masyarakat.
Ada ungkapan yang mengatakan, semakin banyak orang yang berduka saat anda mati, berarti semakin banyak orang yang mendoakan anda agar mendapat tempat yang baik disana. Dan itu terjadi jika anda seperti yang saya katakan diatas, senang membantu dan bermasyarakat. 
Kalau anda tidak bisa menerima kondisi tersebut, jangan hidup di Bali

I AM MANCHUNIAN

 I AM MANCHUNIAN
I DON'T NEED A GUN
I AM NEVER AFRAID TO WALK ALONE
COZ AM NOT NOISY NEIGHBOUR
COZ AM NOT COMMUNIST

I AM MANCHUNIAN
COZ THE MANCHESTER UNITED IN MY HEART

02 Maret 2012

KALA NURANI LEBIH PENTING DARI PERUT SENDIRI

Seperti tugas biasa, hari ini juga ngirim barang. Kali ini ke nusadua, bersama seorang teman, Dewa Dalem. Perjalanan terasa lama karena macet disertai hujan deras berangin.  Setelah agak lancar, temanku yang memang tidak suka berlemot ria saat naik mobil, langsung tancap gas. Nah, beberapa meter kemudian, dia tiba2 banting setir kekiri dan berhenti dipinggir jalan. Turun dari mobil menuju ke tengah jalan dan memungut selembar uang 50rb (saya berpikir, gila! itu mata apa mikroskop?!). Sambil tersenyum dia kembali naik ke mobil, menunjukkan uang yang ada coretan gambar bebek yang dipungutnya dan melanjutkan perjalanan. Setiba ditempat ngirim, sambil nurunin barang, kedengaran ada seorang bapak2 diwarung sebelah ribut sambil menangis mencari uangnya, yang akan dia pakai membayar beras yang dibelinya. Temanku menghampirinya dan berbicara kepadanya sebentar. Dia terlihat mengembalikan uang yang tadi dipungutnya kepada bapak itu. Kemudian kembali menghampiri dan membantuku menurunkan barang. Saat aku bertanya kenapa dia memberikan uang itu kepada bapak yang tadi, dia menjawab dengan sejelasnya “uang itu miliknya. Sebelum kuserahkan, dia menjelaskan bahwa anaknya yang masih balita, sempat menggambari uang itu sebelum diambil ayahnya dengan gambar bebek.uang itu hasilnya berjualan selama seminggu dan akan dibelikan beras untuk makan keluarganya. Itu satu2nya uang yang dia punya saat ini. Aku mungkin orang yang kekurangan dan butuh duit juga, tapi dia jelas lebih butuh uang itu daripada aku. Jadi kukembalikan.”
Great lesson for me, my friend. .